Tuesday, July 16, 2024

Urbanisasi vs Bertahan di Kampung + JNE sebagai Penghubung Mimpi

Author -  Lubis Muzaki

Di Antara yang Pergi dan yang Tetap Tinggal

Bergerak Bersama, Beragam Cerita

Merantau itu memang bagus. Semakin jauh kota tujuan, semakin besar harapan yang dibawa. Tapi tidak semua orang benar-benar ingin dan atau terpaksa tidak bisa meninggalkan rumah. Beberapa hanya tidak punya pilihan—setidaknya sampai mereka menemukan cara lain untuk tetap tinggal, tanpa harus berhenti bermimpi.

Mereka yang merantau, pergi membawa harapan yang besar, sering kali lebih besar dari apa yang bisa ditawarkan kampung ini, Banyuwangi. Padahal, kota kelahiran saya ini tidak benar-benar tertinggal. Wisata berkembang, orang-orang dari luar berdatangan, dan nama daerah ini semakin sering disebut. Tapi karena kondisi tiap keluarga yang berbeda-beda, semua itu tidak selalu cukup untuk membuat orang bertahan.

Rumah-rumah warga di perkampungan saya itu tetap berdiri seperti biasa. Di antara persawahan yang semakin banyak terbengkalai. Suasananya berubah. Tidak lagi seramai dulu. Kampung saya pelan-pelan belajar hidup dengan keheningan yang baru. Bahkan, rumah ibadah pun "semakin maju" barisannya. Lebih banyak diisi oleh orang-orang yang sudah tua.

Suasana kampung Banyuwangi
Suasana kampung yang mulai berubah

Cerita dari Salah Satu Mereka yang Memilih Tetap Tinggal

Di tengah cerita tentang mereka yang berangkat ke luar kota, selalu ada beberapa yang memilih tetap tinggal. Salah satunya adalah Mbak Della.

Rumahnya tidak jauh dari tempat saya tinggal. Bangunannya sederhana, dengan halaman yang selalu terlihat rapi setiap pagi. Di bagian depan, terdapat toko dengan nama Della Sale, yang juga sekaligus membuka jasa layanan seperti fotocopy, laminating, undangan dan jasa pembuatan buket untuk keperluan wisuda sekolah, pernikahan atau lainnya. Terkadang di sebelah toko tersebut juga dipenuhi tampah berisi irisan tipis pisang yang dijemur untuk dijadikan sale pisang.

Toko Della Sale
Toko sederhana tempat Mbak Della memulai usahanya

Sehari-hari, Mbak Della membuat dan menjual sale pisang khas Banyuwangi. Usaha itu sudah ia jalani bertahun-tahun, jauh sebelum orang-orang mulai ramai membicarakan produk lokal seperti sekarang. Dulu, pembelinya tidak banyak. Hanya orang-orang sekitar, atau kenalan yang datang langsung ke rumah.

Padahal, beberapa tahun terakhir, Banyuwangi semakin ramai. Wisata berkembang, orang-orang dari luar kota berdatangan, dan toko oleh-oleh mulai bermunculan di banyak titik. Sekilas, ini seharusnya jadi kabar baik bagi usaha seperti milik Mbak Della.

Tapi kenyataannya tidak sesederhana itu.

Untuk bisa masuk ke toko oleh-oleh besar, ada banyak hal yang harus dipenuhi—mulai dari kemasan, kapasitas produksi, hingga konsistensi pasokan. Hal-hal yang bagi usaha rumahan seperti Mbak Della bukan sesuatu yang mudah dikejar dalam waktu singkat.

Akhirnya, meskipun berada di daerah yang semakin dikenal, usahanya tetap berjalan seperti biasa. Tetap sederhana. Tetap mengandalkan pembeli yang datang langsung, atau orang-orang yang sudah mengenalnya sejak lama.

Saya masih ingat, dulu aktivitasnya terasa tidak banyak berubah. Mengupas pisang di pagi hari, menyusunnya satu per satu di atas tampah, lalu menjemurnya di bawah matahari. Setelah cukup kering, pisang-pisang itu diolah dan dibungkus seadanya—tanpa label khusus, tanpa kemasan yang menarik. Semua dilakukan dengan cara yang sama seperti bertahun-tahun sebelumnya.

Kalau sedang sepi, ia biasanya duduk di kursi depan rumah, melihat jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sesekali menyapa orang lewat, atau sekadar memperhatikan kendaraan yang melintas menuju arah kota—arah di mana banyak peluang seolah terkumpul.

Proses jemur pisang
Proses penjemuran sale pisang di halaman rumah

Pernah suatu waktu, saya mendengarnya berkata pelan, lebih seperti bicara pada diri sendiri, bahwa mungkin suatu hari ia juga harus mencoba peruntungan di luar Banyuwangi. Bukan karena ingin, tapi karena merasa tidak punya banyak pilihan.

Tapi sampai hari itu benar-benar datang, ia tetap di sini. Melanjutkan apa yang sudah ia mulai, dengan cara yang ia tahu.

Sampai akhirnya, semuanya bermula dari satu pesanan kecil.

Seorang pelanggan lama yang sudah lama merantau ke luar kota, tiba-tiba menghubungi Mbak Della. Ia bilang rindu dengan rasa sale pisang yang dulu sering ia beli sepulang sekolah. Tidak banyak, hanya minta dikirim beberapa bungkus.

Permintaan sederhana itu, tanpa disadari, membuka kemungkinan yang selama ini tidak terpikirkan.

Hari itu, saya melihat sesuatu yang berbeda di halaman rumahnya.

Proses packing
Proses packing sederhana sebelum dikirim

Di atas meja kayu yang biasanya dipenuhi tampah dan pisang yang dijemur, kini ada tambahan lain: kardus bekas, gulungan lakban, dan plastik kemasan yang disusun lebih rapi. Sale pisang yang sudah matang dimasukkan ke dalam plastik satu per satu, lalu ditata hati-hati agar tidak hancur selama perjalanan.

Di sampingnya, spidol hitam dibiarkan terbuka. Tulisan alamat di permukaan kardus terlihat tebal dan sedikit miring, seperti ditulis sambil sesekali berhenti memastikan ejaannya benar. Setelah itu, ia menutup kardus dan merekatkannya berlapis-lapis.

Paket itu kemudian diletakkan di sudut meja, berdampingan dengan beberapa pesanan lain yang mulai disiapkan.

Tidak lama kemudian, seseorang datang—motor berhenti sebentar di depan rumah. Tidak ada percakapan panjang, hanya sapaan singkat yang terdengar biasa. Kardus itu berpindah tangan dengan cepat, lalu dimasukkan ke dalam tas besar di belakang motor.

Kurir JNE
Paket yang siap berangkat bersama JNE

Dari situ, pesanan mulai datang lagi.

Awalnya masih dari orang-orang yang sudah pernah mengenal produknya. Tapi lama-lama, jangkauannya mulai meluas—teman dari teman, kenalan dari luar kota, hingga orang-orang yang sebelumnya tidak pernah ia temui.

Meja kayu di depan rumahnya pun mulai berubah fungsi. Bukan lagi sekadar tempat menjemur dan membungkus, tapi juga tempat menyiapkan kiriman. Kardus tidak lagi hanya satu. Lakban selalu tersedia. Tulisan alamat mulai lebih sering dibuat.

Ritmenya berubah.

Jika dulu ia menunggu pembeli datang, sekarang ia justru menyiapkan barang untuk dikirim pergi. Tidak perlu masuk ke toko oleh-oleh besar, tidak perlu pindah ke kota—tapi sale pisang buatannya tetap bisa sampai ke tempat-tempat yang sebelumnya terasa jauh.

Membuat Kampung Tetap Hidup

Perubahan itu tidak hanya terasa di Mbak Della.

Aktivitas warga
Aktivitas bersama yang kembali menghidupkan kampung

Beberapa orang di sekitar mulai ikut terlibat. Ada yang membantu mengupas pisang, ada yang menata jemuran, ada juga yang ikut membungkus sebelum dikirim. Pekerjaan yang dulu bisa selesai sendiri, kini perlahan menjadi aktivitas bersama.

Tidak besar, tidak ramai, tapi cukup untuk membuat rumah itu tidak lagi sepi.

Dan dari situ, dampaknya terasa lebih jauh.

Orang-orang yang dulu mungkin berpikir untuk pergi, kini punya alasan lain untuk bertahan—meskipun sederhana. Ada yang tetap tinggal karena masih bisa bekerja di sekitar rumah. Ada yang memilih tidak buru-buru merantau, karena melihat masih ada kemungkinan untuk hidup di kampung sendiri.

Kehidupan sosial pun terasa tetap berjalan.

Acara-acara kecil di kampung masih dihadiri. Orang-orang masih saling mengenal, masih sempat berkumpul, masih punya waktu untuk hal-hal yang dulu perlahan mulai hilang ketika terlalu banyak yang pergi.

Bahkan untuk hal-hal yang lebih mendasar—seperti ibadah—ritmenya tetap terjaga. Tidak ada kekurangan orang untuk ikut serta, tidak ada yang benar-benar ditinggalkan. Kampung ini tetap hidup, bukan hanya secara fisik, tapi juga secara kebersamaan.

Dan di balik semua itu, ada peran yang sering kali tidak terlihat secara langsung.

Paket-paket yang diantar oleh JNE memang hanya terlihat sebagai barang yang berpindah tempat. Tapi di balik itu, ada sesuatu yang ikut bergerak: aktivitas, pekerjaan, dan alasan bagi orang-orang untuk tetap tinggal.

Mbak Della mungkin tidak pernah benar-benar memikirkan sejauh itu.

Ia hanya menjalankan apa yang bisa ia lakukan—membuat sale pisang, membungkusnya, lalu mengirimkannya.

Tapi dari hal yang terlihat sederhana itu, ada banyak hal lain yang ikut terjaga.

Bukan hanya usahanya.

Tapi juga kampungnya.